Kali ini saya ingin berbagi tentang sebuah cerita yang pernah saya baca di sebuah surat kabar yang saya baca saat sedang menunggu motor yang sedang diservis. Jadi ceritanya begini.
Saat mengajar sebuah topik mata kuliah filsafat, seorang profesor tiba-tibba mengambil sebuah toples kosong. Tanpa penjelasan awal, profesor mengisi toples itu dengan bola-bola golf. Ia bertanya pada mahasiswanya, “apakah kalian melihat sudah penuh?”, yang dijawab mahasiswanya dengan serempak: “betul!” dengan penuh keheranan.
Setelah itu profesor itu menuangkan batu koral ke dalam toples sambil mengguncang-guncang toples itu. Lalu batu koral itu mengisi tempat yang kosong diantara bola-bola golf. Kemudian dia mengkonfirmasi lagi kepada mahasiswanya: “Apakah sudah penuh?”yang kembali diangguki oleh mahasiswanya. Selanjutnya dia menabur pasir kedalam toples yang tentu saja dengan mudah pasir menutupi semuanya. Profesor itu sekali lagi menanyakan apakah toples itu sudah penuh. Mahasiswanya kembali menjawab betul. Kemudian secara mengejutkan, profesor itu menuangkan sebuat kopi kedalam toples, dan dengan efektif mengisi ruangan kosong antara pasir. Lakon profesor kali ini disambut tawa kegelian oleh mahasiswanya.
Lalu profesor itu mengatakan: “kalian boleh menertawai tingkah saya, tetapi pahamilah bahwa toples ini mewakili hidup kalian”. Profesor itu menjelaskan: “ bola-bola golf adalah hal yang sangat penting dalam dalam hidup: Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan, pendidikan”. Dia menambahkan: “jika yang lain hilang dan tinggal mereka, maka hidup kaliah masih tetap penuh, karena bola-bola golf saja sudah memenuhi toples”. Menurutnya: “batu-batu koral adalah hal-hal lain yang penting seperti: pekerjaan, rumah dan kendaraan. Seperti yang kalian lihat dalam toples betapa batu koral menjadi hal kedua mengisi sisi-sisi kosong untuk memenuhi toples dan penampakannya sangat jelas”.
Profesor itu lebih jauh mengulas: “ pasir adalah hal-hal yang sepele dalam hidup kalian. Jika kalian pertama kali memasukkan pasir kedalam toples, pasti tidak akan tersisa ruangan untuk bola-bola golf ataupun batu koral. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu. Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal yang sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian. Jadi berilah perhatian anda pada hal-hal yang lebih penting dahulu kemudian pada hal-hal yang sepele”. Para mahasiswa pun mengangguk-anggukkan kepala tanda mereka sudah mulai paham dengan maksud sang professor.
Tiba-tiba seorang mahasiswa unjuk tangan dan bertanya, “Prof, lantas apa maksud dari kopi yang di tuangkan ke dalam toples?”, professor pun menjawab: “pertanyaan yang sanagt bagus,. Maksud dari dari kopi tersebut adalah, jika anda sudah melakukan semua hal dari hal-hal yang penting sampai yang sepele, jangan lupa untuk meluangkan waktu minum kopi bersama teman dan kerabat.” Sontak para mahasiswapun tertawa…
Beginilah analogi hidup ini. Semoga anda pun dapat memaknai dan mengambil hikmah dari cerita di atas…


MANTUL…. keren kawan, mantaf ne artikelnya. memang adakalanya menyisihkan waktu barang sejenak u/ *minum kopi bareng*, guna melepaskan penat dan merapatkan rasa perasudaraan…
yaah,,, memang sih,.. tapi ada kalanya kebanyakan orang lebih banyak minum kopinya, akhirnya “tumpah” deh kehidupan ini….
hheeee… wah kalo dah masuk kebanyakan. ane angkat tangan dech.
jadi ketahuan nich mas… hehehe
heee… umumnya pribahasa yang sering dilakukan sama kawan tu ” hidup cuma sekali dan bentar masanya jadinya dibikin enjoy saja”. lha ini dia baik kalo takarannya pas, tapi kalo dah kebanyakan….
btul tuh mas…. hidup harus seimbang..
sedikit puyeng baca artikelnya
karena tidak ada paragraf pada isi cerita..
btw, sederhana memang tapi mempunyai arti persahabatan sob
yaa…sya mnta mf. harap maklum, jringnx lagi lalod..
ok, nanti di edit mas.. thanks atas komennya…
bener banget tu mas.. tapi kadang di usia ABG, anak2 remaja banyak menghabiskan hal2 sepele daripada hal2 penting, mungkin itu bagian dari pendewasaan kali yaaa.. hehe
nmyaa….sya kira dengan kita bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, melakukan hal-hal yg lebih penting, itu sudah merupkan suatu kedewasaan.. jadi kalau alasan kedewasaan, jadilah lebih baik dan berarti. kira-kira gtu kawan.. gmna??