hari valentine

Valentine day: Muslim, mengapa tidak??

Valentine day adalah suatu fenomena yang banyak diperbincangkan oleh para muda-mudi, bahkan tak sedikit pula orang yang sudah menikah saat memasuki pertengahan bulan februari. Berbagai media periklanan, bisnis, mall-mall dan sebagainya memanfaatkan momentum ini untuk saling memberi kasih sayang “katanya” dengan saling memberi ucapan hari valentine, hadiah, dan semacamnya, tanpa tanpa terkecuali umat muslim. Namun, ditengah-tengah suasana yang penuh kasih dan sayang ini, tak sedikit pula orang khususnya umat muslim yang menyuarakan tidak untuk valentines day. Seperti yang banyak saya temukan belakangan ini di media social seperti facebook dan blog. Inilah akhirnya yang megispirasi saya untuk membuat tulisan ini. Muslim, mengapa tidak??

hari valentine, muslim, islam, perayaan valentine, hari kasih sayang

Jika anda termasuk orang yang selalu menyambut dan ikut sarta dalam perayaan valentine day, mungkin anda akan memiliki pertanyaan yang sama dengan saya, mengapa tidak?? Bukankah cinta itu perlu. Bukannya kasih sayang itu harus kepada sesama.

 

Asal muasal Valentine day

Nah..sebelum kita masuk pada inti masalah, ada baiknya jika kita menelaah terlebih dahulu apa sebenarnya hari valentine itu. Sebab, dalam Al-Quran Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Israa [17]: 36).

Jadi, lebih afdolnya jika kita mengetahui dulu asal muasal perayan hari valentine ini sebelum kita ikut di dalamnya.

Banyak catatan yang menyebutkan tentang asal usul peringatan hari valentine ini. Ada yang mengatakan bahwa Valentino adalah seorang pendeta Roma yang dipenggal oleh kaisar Claudius II karena melanggar peraturan waktu itu, yaitu menikahkan orang secara sembunyi-sembunyi. Ada pula yang mengatakan bahwa 14 februari adalah sebuah upacara yang dilakukan pada tahun 496 M oleh Paus Gelasius I sebagai penghargaan terhadap st. Valentine yang kebetulan meninggal pada tanggal itu. Dan banyak pula yang mengait ngaitkan hari valentine dengan ritual penyembah berhala bangsa Romawi kuno yang dilaksaknakan pada pertengahan februari sebagai bulan cinta dan kesuburan.

 

Mudharat Valentine day

Dari sekian banyak catatan sejarah, tidak ada kejelasan tentang cerita asal usul perayaan valentine day ini. Inilah yang membuat hari valentine menjadi abu-abu dari segi sejarah. Hanya ada satu hal yang pasti tentang sejarahnya, bahwa hari valentine tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kebudayaan islam. Oleh karena itu, banyak orang yang berpendapat bahwa hari valentine tidak layak diikuti oleh umat muslim. Sebab, rasullah pernah bersabda:

Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” (HR. Tirmidzi).

Selain dari pada itu, perayaan valentine day banyak dilakukan oleh pasangan yang belum menikah alias pacar. Ketika telah bersinggungan dengan pacaran, tak bisa dipungkiri akan menyeret pada perbuatan yang tidak semestinya, pergaula bebas, hubungan intim, dan sebagainya yang jelas-jelas di tentang oleh agama kita. Hal ini dipicu oleh pemahaman sebagian para remaja bahwa hari kasih sayang adalah hari bercinta, bercumbu, memberikan seluruh raga kepada sang kekasih, meskipun belum ada ikatan suci yaitu pernikahan. Sehingga banyak kita dengar laporan di media massa kalau permintaan terhadap kamar hotel sampai pada kondom melonjak menjelang pertengahan februari. Seakan akan untuk menyatakan cinta dan kasih sayang hanya dengan cara itu saja. Inilah sebabnya banyak juga orang yang mengatakan tidak untuk hari valentine.

Labih jauh lagi, dengan meniru aktivitas-aktivitas semacam hari valentine menunjukkan ketidakberdayaan umat Islam yang pada akhirnyanya akan meninggalkan nilai-nilai keagungan Islam, menanggalkan identitas keislaman yang sangat menjunjung tinggi cinta dan kasih sayang. Sebab dengan mengikuti valentine day, bukan saja mengikuti pesta untuk menyatakan kasih sayang namun juga mengikutsertakan seks bebas, fashion, pakaian minim, dansa dansi, dan mengumbar nafsu lainnya.

Valentine day juga secara tidak langsung memberi keuntungan kepada pihak kapitalis dan menjadikan umat Islam sebagai konsumennya. Mereka yang membuat, memproduksi barang untuk kepentingan perayaan, sementara pembelinya adalah umat Islam.

Oleh karena itu, kita seharusnya bersikap yang mencerminkan jati diri seorang muslim. Bukan ikut-ikutan orang lain yang tidak jelas ‘landasan teori’nya dan pada akhirnya mejatuhkan kita ke dalam jurang maksiat dan kenistaan.

Jika kita memang memang ingin mewujudkan rasa cinta dan kasih sayang itu, mengapa tidak kembali pada apa yang di ajarkan dalam agama kita. Islam sangat menjunjung tinggi yang namanya cinta. Kita diperintahkan untuk cinta pada orang tua,  saudara, keluarga, guru-guru, dan diatas segalanya adalah Allah dan Rasulnya. Jadi, cinta itu bukan hanya pada lawan jenis saja. Bahkan kita tidak dilaran untuk mencintai pada lawan jenis karena itu adalah fitrah kita sebagai manusia dengan catatan harus dalam ikatan pernikahan. Karena kita ajarkan untuk memuliakan hubungan itu, bukan karena nafsu semata. Itulah kemuliaan agama ini. Tidak memperturutkan hawa nafsu dalam balutan cinta semu yang dilampiaskan dalam satu hari saja dalam setahun. Yang jelas, cinta dalam islam lebih luas maknanya dari sekedar memberikan ucapan hari velentine, dugem, dan pergaulan bebas.

 

Saya kira uraian singkat di atas sudah bisa menjawab pertanyaan yang telah kita ajukan di awal terkait dengan valentine day: Muslim, mengapa tidak?? Semoga kita bisa membuka pemikiran betapa tidak layaknya perayaan ini dilakukan terlebih untuk umat muslim.

 Scroll to top